Arteaga
Cinta lama yang bersemi kembali. Atau makin bersemi? The flame remains there, anyway. Setelah sebelumnya aku sibuk memburu ‘the Nature guy’ dan kami berbicara tentang Her-2 negative breast cancer. Berpikir praktis sepertinya aliran para scientist Jepang, kalau tidak berbicara alat baru ya pendekatan terapi baru. Secara protokoler barangkali idenya tidak 100% orisinal, tetapi sungguh layak dikagumi. Bagaimanapun Her-2 negative breast cancer patients adalah kelompok yang memang ada. Reseptor temuannya itu mudah-mudahan benar suatu harapan terapi baru yang menjadi nyata.
Ada suatu alasan personal khusus ketertarikanku dengan Herceptin. ( http://inihelfi.multiply.com/reviews ).Jadi lihatlah aku, terkagum-kagum untuk kedua kalinya dalam meeting ini, ketika topik reversal resistance of Her-2 postive breast cancer to trastuzumab dibawakan dalam forum. Kekaguman yang perih. Teringat masygul yang kurasa sewaktu mengumpulkan data ER/PR status 2 tahun yang lalu. Terapi yang harganya bikin kening berkerut seperti rok anak SD, itupun tidak kemudian membuatnya mampu terbeli. Kemewahan yang hanya bisa terjangkau justru oleh para pemegang Askes Gakin (dengar2 kelanjutan ceritanya berubah ya?). Tetapi kan sama juga boong (pinjam istilahnya Dono Warkop) kalo status reseptornya tidak dicek dulu.
Maka lihatlah ia, bicara tentang unresponsiveness. Lebih ‘sama juga boong’ adalah karena bahkan breast cancer yang overexpress Her-2 receptor juga belum tentu berjodoh dengan trastuzumab. Sungguh tidak sopan. Her-3, Met, TGFalpha…betapa banyaknya deretan alphabet yang menjadi nama. Lalu diskusi yang dilingkupi keprihatinan. Bagaimana meyakinkan kolega klinikus agar melakukan biopsy ulang pada kasus relaps pasca adjuvant Herceptin? Dr. Brown bertanya penuh empati. Prof Gray malah meloncat lebih jauh: bagaimana mendesain clinical trial untuk temuan ini.
Kusimak dan kucatat sebaik mungkin. Tetapi sesungguhnya aku punya pertanyaan yang lebih besar, yang begitu besarnya sehingga hanya bisa kutanyakan dalam ruang diskusi batinku.
Ya Allah, jikalau Engkau mengizinkan, apalah yang tidak mungkin terjadi? Para wanita disana itu, mestinya adalah ibu seorang anak, mbak seseorang, atau cucu seorang kakek, sahabat seorang wanita lain, pastinya anak perempuan yang menyejukkan hati seorang bapak. It’s just not gonna be the same anymore without her… Karena adalah janjiMu bahwa semua ada obatnya. Dan kamipun memahami kewajiban ikhtiar dan tawakal. Maka bantulah kami..

Recent Comments